Bedah Buku di BPK Perwakilan Provinsi Jateng “Belajar Taktis Merespon Krisis”

216

Krisis dapat mengganggu, merubah proses bisnis, bahkan menentukan mati-hidupnya organisasi. Respon yang tepat atas kondisi krisis dapat meyakinkan para pekerja, stakeholders, dan masyarakat luas akan kemampuan organisasi melewati masa krisis. Public Relations sebagai aktivitas fungsi manajemen komunikasi menjadi elemen vital dalam proses manajemen krisis.

Demikian antara lain terungkap dalam acara bedah buku bertema Crisis Management & Public Relations; Mengatasi Krisis Memulihkan Citra di kantor BPK Perwakilan Provinsi Jateng pada Jumat (24/11) kemarin. Dibuka oleh Kasubbag Humas BPK Perwakilan Provinsi Jateng Athur Saragi, acara tersebut diikuti setidaknya 80 peserta dari kalangan pustakawan serta pelaksana kehumasan di instansi-instansi pemerintah yang ada di Semarang dan beberapa pemerintah daerah di Jateng.

Penulis buku Crisis Management & Public Relations, Ludwig Suparmo, menjadi pembicara tunggal dalam acara bedah buku tersebut. Adapun Shinta Ardany, seorang MC professional dan penyiar radio yang cukup ternama di Semarang, menjadi moderator yang memandu acara.

“Menurut Kasubbag Humas Athur Saragi, dalam melaksanakan acara bedah buku, BPK Perwakilan Provinsi Jateng bekerja sama denga Subbag Perpustakaan BPK. Selain menambah pemahaman tentang manajemen krisis dan PR, acara tersebut menjadi upaya BPK Perwakilan Provinsi Jateng dalam membangun kerja sama yang efektif dengan stakeholder BPK yang ada di Semarang dan sekitarnya. “Kita harapkan, ke depan nanti,
relasi BPK dengan stakeholder, khususnya dengan para pelaksana fungsi kehumasan, menjadi semakin baik dan produktif,” jelas Kasubbag Humas Athur Saragi.”

Di hadapan peserta, Ludwig Suparmo menjelaskan, respon awal dalam menyikapi sebuah kiris menjadi pertaruhan bagi organisasi atau lembaga. Jika manajemen tidak memberi respon yang tepat dan cepat, eskalasi dampak dari peristiwa yang ada akan semakin sulit diatasi. “Dalam setiap kejadian, masyarakat butuh kejelasan informasi dan kepastian sikap dari sebuah organisasi. Pelaksana fungsi kehumasan seharusnya menjadi sumber dan penyampai informasi yang paling bisa diandalkan oleh publik,” katanya.

Menurut penulis yang juga pengajar di STIKOM InterStudi Jakarta ini, krisis yang terjadi bukan melulu jadi tanggung jawab unit kerja Public Relations. Keseluruhan jajaran manajemen harus bersinergi untuk mencegah, mengelola dan menyelesaikan krisis yang dialami organisasi. Oleh karena itu, setidaknya terdapat tiga hal penting yang harus dimiliki setiap pimpinan, khususnya divisi atau unit kerja yang terkait fungsi PR, yaitu kesiapan (be prepared), kehadiran dan kesediaan menghadapi permasalahan (be available), serta meyakinkan dan berwibawa (be credible). “Seorang pimpinan atau praktisi PR yang baik haruskah punya keberanian menghadapi persoalan, bukan orang-orang yang suka menghindar atau ngeles,” jelasnya.

Acara bedah buku itu sendiri baru pertama kali dilaksanakan di BPK Perwakilan Provinsi Jateng. “Acara bedah buku ini memang baru pertama kali kami laksanakan,” jelas Kasubbag Humas Athur Saragi. “Kami harapkan nanti akan ada kegiatan-kegiatan sejenis untuk dapat lebih meningkatkan kapasitas para pelaksana tugas kehumasan maupun untuk meningkatkan kerja sama antar-instansi yang sudah ada selama ini.”

Bagi para peserta, acara bedah buku tersebut menjadi kesempatan yang sangat bermanfaat untuk menambah pemahaman tentang kehumasan dan manajemen krisis. Selain dapat bertanya jawab tentang isi buku secara langsungkepada penulisnya, para peserta juga mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai manajemen krisis dalam praktik riil berorganisasi di mana mereka bertugas (*).